Kamis, 08 Januari 2009

pusing TPS......

DEPRESI PASCASALIN / DEPRESI POSTPARTUM



PENDAHULUAN

Kehamilan merupakan periode krisis dalam proses kehidupan seorang wanita. Peristiwa kehamilan berpengaruh terhadap perubahan fisik maupun psikologis yang sangat berpengaruh terhadap emosionalnya. Perubahan berat badan menyebabkan perubahan bentuk tubuh seorang ibu, sehingga berpengaruh terhadap kondisi psikologis dari seorang ibu. Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi (sejak turunnya benih) dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu, sehingga dapat dikatakan ada interdependensi antara faktor-faktor somatis dan faktor-faktor psikis. Menjadi seorang ibu, merupakan keadaaan yang membawa perubahan sangat besar dan sama sekali baru, karena beban baru serta tanggung jawab perempuan sebagai seorang ibu semakin besar.
Bila seorang wanita tidak mampu beradaptasi terhadap peran barunya sebagai seorang ibu maka akan timbul depresi setelah melahirkan (depresi postpartum) yang bervariasi dari hari kehari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, serta kehilangan hasrat untuk berhubungan seksual atau berhubungan intim dengan suaminya, sehingga akan mempengaruhi kepuasan seksualnya.
Beberapa penyesuaian perlu dilakukan oleh seorang wanita, baik dari segi fisik, maupun dari segi mental. Tuntutan sebagai ibu, akan dirasakan semakin berat karena kurangnya pengetahuan perempuan akan hal perawatan bayi, terutama pada perempuan yang baru pertama kali melahirkan (Primipara). Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik pada tuntutan peran dan situasi yang baru, tetapi ada sebagian wanita yang kurang dapat menyesuaikan diri, dan inilah yang jika tidak diperhatikan akan dapat menimbulkan gangguan-gangguan psikologis.
Gejala-gejala seperti, menangis, cepat tersinggung, cemas, sulit untuk berkonsentrasi, labilitas perasaan serta gangguan tidur dan nafsu makan seringkali muncul pada perempuan pascasalin. Sebenarnya, gejala ini umum dialami ibu setelah beberapa hari melahirkan. Pada umumnya setelah melahirkan anak, seorang ibu akan mengalami suatu tingkatan perubahan emosional yang dinamakan baby blues yaitu kesedihan setelah melahirkan. Baby blues ini umumnya terjadi pada hari kedua samapi ketiga setelah melahirkan, dan baisanya ditandai dengan ketidakstabilan emosi, kurang tidur, kelelahan, sikap apatis dari ibu, dan cepat tersinggung. Gangguan atau sindrom ini dapat pula berkembang ke dalam kondisi yang lebih parah, yang dikenal dengan depresi postpartum.


PEMBAHASAN
Depresi Postpartum (pertama kali ditemukan oleh Pitt [1998]) adalah depersi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami).
Menurut pandangan fenomenologi penelitian-penelitian pada periode postpartum menunjukkan bahwa beberapa hari setelah melahirkan seorang wanita akan mengalami tekanan-tekanan psikologis akibat perubahan kadar hormon yang besar dan perilaku wanita yang menunjukkan penyesuaian diri yang rendah. Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional (Clydde, 1977).
Pitt (1998) menyatakan tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami “kesedihan sementara” yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan ini dialami oleh hampir 50% orang yang melahirkan. Sebenarnya menangis adalah hal umum dan sering terjadi dalam periode postpartum, tetapi karena pengaruh dysphoric dan membingungkan, maka keadaan menangis dalam periode ini diklasifikasikan sebagai suatu penyimpangan (Inwood, 1989).
Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikologis postpartum atau melankolia. Menurut Pitt (1988), ciri-ciri khusus yang menunjukkan psikosis postpartum adalah serangan yang akut setelah satu atau dua malam tidak dapat tidur pada masa pueperium, gangguan fungsional tanpa adanya racun, infeksi, atau perubahan mental dari satu gangguan mental ke gangguan mental yang lain. Inwood (1989) mengemukakan karakteristik gejala-gejala depresi postpartum meliputi kegelisahan, agitasi, insomnia, ketidakstabilan perasaan, kesedihan dan kegembiraan, kekacuan, tidak rasional sampai dengan psikotik. Pitt (1998) dan Inwood (1989) sependapat bahwa penderita psikosis postpartum cenderung mempunyai obsesi pikiran untuk bunuh diri dan membunuh bayi.
Sloane dan Bennedict (1988) menyatakan bahwa depresi postpartum biasanya terjadi pada 4 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung 1 –2 minggu dengan gejala sebagai berikut, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mau berhubungan dengan orang lain.
Lamanya gejala ini berlangsung kira-kira 6-8 minggu, walupun pada beberapa perempuan ada yang berlangsung selama 1 tahun (Sarafino, 1990). Gejala ini terjadi sama seperti pada masa awal kehamilan. Banyak penyebab postpartum depression (tekanan jiwa seseudah melahirkan) sebagimana banyak perempuan yang mengalaminya. Banyak perempuan yang menderita karena gejala yang menekan jiwa tetapi tidak dapat mengenalinya, dan menunggu selama berbulan-bulan sebelum mencari pertolongan (Sloane, el.al., 1997)
Pitt (1988) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi postpartum, sebagai berikut.
a. Faktor konstitusional. Gangguan postpartum berkaitan dengan status paritas dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara dan wanita primipara lebih umum menderita blues.
b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama dua minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Gangguan emosional setelah melahirkan secara umum diakibatkan menurunnya kadar hormon secara tiba-tiba, dan biasanya terjadi dalam 3-5 hari setelah melahirkan dan mungkin dimulai pada hari pertama.
c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (1982) mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
d. Faktor Sosial. Paykel (1980) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai, lebih sering menimbulkan depresi pada ibu-ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
Faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan ketidakpuasan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini. Kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seprti kecemasan, kekerasan, dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya depresi (Sarafino, 1990).
Gejala depresi pascasalin memang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainan-kelainan tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan atau masalah bagi ibu yang mengalaminya (Kruckman, 1992).
Sedangkan yang termasuk dalam faktor karakteristik ibu antara lain : umur, pengalaman, pendidikan, selama proses persalinan dan dukungan sosial.
Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa bahwa usia yang tepat bagi seorang perempuan untuk melahirkan adalah pada usia 20-30 tahun, dan hal ini mendukung bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Sedangkan kehamilan pada usia yang lebih awal atau remaja , atau pada usia lanjut telah diyakini akan meningkatkan resiko biomedik dan akan mengakibatkan pola tingkah laku yang tidak optimal, baik pada ibu maupun bayi yang dilahirkan.
Faktor pengalaman. Depresi pascasalin lebih banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran sebagai seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres.
Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau melakukan aktivitas lainnya di luar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anak-anak mereka (Kartono, 1992)
Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin banyak trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka semakin besar pula trauma psikis yang muncul, dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin.
Faktor dukungan sosial. Faktor lainnya yang berkaitan dengan depresi pascasalin adalah faktor yang berhubungan dengan kehidupan sosial ibu dan keadaan keluarga setelah persalinan. Dengan banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan, dan pascasalin, beban sang ibu karena kehamilannya sedikit banyak dapat berkurang.
Dalam kaitannya dengan hal ini, maka dukungan suami sebagai orang yang paling dekat bagi ibu hamil menjadi sangat penting. Bahkans elama proses persalinan, suami mendapatkan ijin untuk ikut mendampingi istrinya dalam menghadapi proses persalinan. Perkembangan relasi tanggungjawab dan penyesuaian diri seorang ibu pada saat memasuki periopde pascasalin, juga sangat memerlukan dukungan suami (Kruckman, 1992)


PENUTUP

Setiap orang pernah merasakan tekanan, baik ringan maupun berat bahkan sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Menurut Beck, depresi berkaitan dengan cara berpikir negatif dengan kata lain, cara berpikir negatif dapat menyebabkan depresi (Neale, 1996)
Psikosis postpartum dapat disimpulkan disebabkan oleh faktor genetik dan hormon, sedang blues disebabkan oleh perubahan hormon dan tergantung pada status paritas terntentu (primipara). Faktor lain penyebab depresi postpartum adalah hubungan dalam perkawinan dan kurangnya dukungan dari anggota keluarga lain. Penyebab lain adalah kecemasan ibu mengenai perawatan bayi dan ketakutan terhadap kegagalan dalam membentuk hubungan kasih sayang dengan bayi.
Saran bagi perempuan hamil, khususnya pada kehamilan pertama disarankan untuk mencari dan menggali informasi yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental selama kehamilan, persalinan, dan pascasalin, serta perawatan bayi. Informasi tersebut sebaiknya diperoleh dari pihak-pihak yang profesional dan berpengalaman, sehingga informasi yang diperoleh tepat. Dengan demikian, diahrapkan mereka akan lebih siap untuk menjalani seluruh rangkaian proses kehamilan, persalinan, dan pascasalin. Dan diharapkan proses tersebut dapat berlangsung dengan nyaman, aman dan menyenangkan.
Saran bagi para suami, disarankan agar lebih memeberikan dukungan baik secara emosional, instrumental, informatif, maupun berupa penghargaan. Sedangkan bagi keluarga, disarankan untuk tetap memberikan dukungan, dengan membantu meringankan pekerjaan, memberikan masukan-masukan yang positif kepada perempuan yang sedang hamil, sehingga mereka akan lebih siap menjalani kehamilannya dan tidak menjadikan kehamilan tersebut sebagai beban bagi dirinya.